di Tulis setahun yang lalu, di publikasikan tgl 11 july 2015



INSIDE OF SINGKAWANG
Saya terus berjalan menelusuri kota kecil yang bermayoritas etnis Tionghua. Salah satu kebudayaan penduduknya,  membangun ruko sebagai tempat tinggal dan berdagang. Secara geografis, kota ini berbatas langsung dengan laut Natuna serta terdapat pegunungan dan sungai. Dimana airnya mengalir dari pegunungan melalui sungai sampai ke muara laut, kota ini bernama Singkawang atau San Kew Jong (dalam bahasa Hakka).

Jalan-jalan asyiknya sambil menikmati kuliner khas di rumah Tua Marga Xie atau Marga Tjhia (dalam bahasa Hakka), yang di bangun pada tahun 1902 oleh Xie Shou, hingga kini menjelang tujuh generasi. Terletak di belakang deretan bangunan ruko baru Jalan Budi Utomo nomor 36 di ujung jalan menuju tepi sungai. Kuliner ini tidak digoreng melainkan dikukus, memiliki tekstur adonan kulitnya yang lembut, rasanya asin dan manis, isi di dalam kuliner ini yang sering dijumpai adalah bengkuang, kuliner ini bernama Choi Pan.




Choi Pan
Setelah kenyang menikmati Choi Pan, saya langsung menelusuri bangunan tua ala Tiongkok kuno ini. Rumah ini memiliki dua ruangan besar, bagian depan dan belakang yang penuh ornamen dan ukiran maupun kaligrafi berwarna emas di setiap ambang pintu. Ruangan belakang merupakan altar abu leluhur terdapat genangan air, dan terpajang patung Buddha dan Dewa beserta papan nama para leluhur, ruangan ini digunakan untuk beribadah seperti di Vihara.
Ruang depan

Ruang belakang


Hmm.. Kalau dengar kata Vihara, saya jadi ingat nama lain kota Singkawang yaitu kota Seribu Klenteng, karena di Singkawang terdapat banyak Vihara atau Klenteng. Saya jadi tertarik untuk berwisata ke Vihara termegah dan terbesar, terletak di jalan Sagatani, Kelurahan Sijangkung, Kecamatan Singkawang Selatan yang terletak agak pelosok yaitu Vihara Chikung atau Ji Gong.
Ketika saya sampai di lokasi tujuan yaitu Vihara Chikung, saya disambut oleh pintu gerbang besar dengan ornamen simbol khas budaya China yang dihiasi patung singa, dan naga. Terdapat papan kayu yang tertulis Ji Gong House of Help. Di halaman depan berdiri sebuah Pavilion, di lantai dua pavilion terdapat patung Budha. Vihara Chikung membuat saya serasa berada di pedalaman China.
 
Di Vihara Chikung saya bertemu pak Alin penjaga Vihara, kemudian beliau bercerita tentang Vihara Chikung ini kepada saya.
Pak Alin berkata “Budha Chikung adalah Biksu Chikung, konon Chikung selalu berbuat baik dan kebajikan, maka orang-orang menggelarinya sebagai Budha. Ji Go House of Help artinya Biksu Chikung terbuka untuk menerima siapa saja di rumahnya yang membutuhkan pertolongannya, maka vihara ini membentuk Vihara Yayasan Budha Chikung yang terdiri dari Yayasan Panti Werdha yaitu panti jompo.”
 
Pintu Gerbang Vihara Chikung 
Pavilion Chikung
  
Vihara ini memiliki 3 lantai, pada lantai dasar bagian luar saya disambut oleh patung Chikung raksasa keemasan, pada bagian dalam lantai dasar terdapat patung Budha Siddharta raksasa yang dikelilingi banyak patung dewa, menurut pak Alin Budha Siddharta adalah Budha terbesar diantara Budha-Budha lain.
 
Patung Chikung Raksasa
“Di lantai kedua adalah tempat beribadah yang paling khusyuk, terdapat juga patung Budha Chikung. Di luar lantai kedua ini terdapat patung Sun Go Kong dengan tinggi 3 meter  yang di apit oleh dua patung naga. Sun Go Kong dilambangkan sebagai penjaga Vihara Chikung yang sakti untuk mengusir roh-roh jahat.” Jelas pak Alin.

Lantai ke tiga juga tempat untuk beribadah terdapat banyak sekali patung-patung Dewa dan tempatnya agak gelap dan ruangannya tidak terlalu besar seperti pada lantai pertama dan lantai ke dua. Vihara Chikung merupakan Vihara yang sangat bersih dan terawat hingga menjadi salah satu tempat favorit untuk  beribadah bagi para penganut Budha Sekte Maitreya.
Setelah puas menelusuri Vihara Chikung, saya bersantai-santai di Pavilion Vihara Chikung, untuk menikmati hiruk-pikuk angin dan suasana yang tenang jauh dari keramaian. Dengan bukti-bukti nyata inilah yang merespon kebijakan Pemkot Singkawang yang menetapkan kota Singkawang sebagai pusat kebudayaan Tionghoa untuk mengembangkan industri pariwasata Kalimantan barat.
Dan masih banyak lagi kunjungan wisata yang terdapat di Singkawang.



Komentar